sebuah kisah nyata dari seorang sahabatku.
Antara Aku dan Gapteknya Negeri Ini
Sebenarnya ini cerita ketika aku masih menjadi seorang remaja muda dulu, tapi bukan berarti sekarang aku sudah tua. Hehehe. Hanya saja agak sedikit lebih dewasa.
Aku adalah seorang Sarjana Hukum yang sekarang masih kembali menjadi seorang mahasiswi semester III di Sekolah Tinggi Informatika dan Komputer. Aneh? Bukankah aku sudah menyandang sarjana? Kenapa harus repot-repot bersekolah lagi dengan background yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan gelar Sarjanaku sekarang?. Yaaa, menurutku itu bukan hal yang aneh. Alasannya hanya satu yaitu aku ingin tahu lebih banyak tentang dunia IT yang sebelumnya aku sama sekali nol untuk urusan seperti itu.
Sebenarnya, alasan yang paling jujur karena aku memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan bisa dibilang menyedihkan juga ketika aku merasa menjadi orang yang amat sangat Gaptek dengan teknologi dunia maya yang memang pada saat itu masih jarang di gunakan di Indonesia.
Cerita ini berawal ketika aku duduk di bangku kelas 1 SMA. Saat itu aku menjalin hubungan yang bisa dibilang lebih dari sekedar teman (dibaca : Pacar) dengan seorang mahasiswa tampan yang tidak bisa kusebutkan namanya. Dia kuliah di Universitas Indonesia jurusan Teknik Informatika semester III. Ya, seorang mahasiswa Universitas Indonesia. Siapa yang tidak tau Universitas yang sudah terkenal itu?. Aku saja bermimpi bisa bersekolah disana, hahaha. Dia orang yang baik, sopan, menyenangkan, pekerja keras, dan yang sering membuatku kagum padanya adalah kepintarannya yang hampir membuatku selalu berdecak kagum.
Dia tau banyak tentang perkembangan teknologi dari yang ada di Indonesia sampai yang ada di luar negeri sekalipun. Rasa ingin taunya yang sangat tinggi membuatnya tau banyak hal. Sedangkan aku, yaa hanya menjadi pendengar setianya saja saat itu.
Sayang sekali, aku adalah salah satu dari ribuan pasangan yang menjalani hubungan Long Distance Relationship atau yang sering kalian sebut dengan LDR. Harus bersabar tiap kali ingin bertemu, harus menahan semua rasa kangen yang entah harus diungkapkan seperti apa lagi. Menyiksa sekali menjalani hubungan seperti ini disaat belum ada handphone. Yang ada hanya telfon rumah yang kalian tau sendiri betapa mahalnya hanya untuk menelfon 15 menit saja saat itu. Haaaah,,, hampir putus asa. Tapi, yaa tak apalah.
Kita jarang sekali bertemu. Paling hanya beberapa kali saja dalam sebulan saat dia mendapat libur semester atau libur nasional saja. Tapi, aku tetap senang ketika dia pulang menemuiku, jalan berdua, makan soto di warung soto yang sampai sekarang pun aku masih ingat namanya,*hahaha,, jadi kangen rasanya. Saat-saat bertemu ini sangat kita manfaatkan sebaik mungkin untuk bercerita banyak hal selama kita tidak bertemu. Sehari bersamanya rasanya hanya seperti satu jam. Berat ketika harus mengantarnya untuk pulang kembali ke Jakarta dan berjauh-jauhan lagi dengannya dalam waktu yang lama.
Sampai suatu saat aku menerima kabar bahwa dia mendapat beasiswa ke Jerman dan bersekolah disana. Aku hanya bingung. Apakah aku harus ikut berteriak senang karena dia mendapat beasiswa yang tidak semua mahasiswa bisa mendapatkannya? Atau aku harus menangis sedih karena jarakku semakin jauh dengannya? Jerman? Jauh sekali. Saat itu aku hanya berpura-pura senang mendengar kabar itu.
Jerman. Benar-benar tak ada bayangan sama sekali dipikiranku seperti apa bentuk negara itu. Yang terpikir dikepalaku adalah negara itu sangat jauh sedangkan aku berada di sebuah kota kecil di Indonesia yang mungkin belum terlalu familiar ditelinga setiap orang.
Selama dia di Jerman, selama itu juga aku berusaha bersabar entah kapan aku bertemu dengannya. Dia sering menelponku lewat telfon rumah, tapi bagaimana aku bisa mengungkapkan rasa kangenku yang amat sangat ini jika setiap saat aku mendapat telfon darinya Ayahku selalu duduk disampingku. Aarggh, rasanya kesal sekali. Dia selalu bilang kalo dia membuatkanku akun di internet dari mulai alamat e-mail, facebook, friendster, myspace dengan harapan aku akan menggunakan akun itu untuk berhubungan dengannya meskipun jarak kita sangat jauh.
Facebook? Friendster? Myspace?
Apa itu?. Aku sama sekali tidak tau bagaimana cara menggunakannya, mengirim email saja aku masih bingung. Bayangkan saja, pada saat itu komputer saja masih pentium satu dan di Indonesia belum heboh dengan jejaring sosial semacam facebook. Sementara di negeri nan jauh disana, dia sudah menikmati betapa mudahnya menggunakan berbagai macam jenis akun jejaring sosial yang sangat memudahkan mereka untuk berkomunikasi jarak jauh.
Entah aku terlalu bodoh atau awam dengan hal-hal semacam itu atau memang orang-orang Indonesia yang masih Gaptek dengan teknologi semacam itu. Aaah,, harus belajar dengan siapa aku untuk menggunakan akun-akun semacam itu. Warnet saja masih mahal sekali saat itu.
Dia sempat marah padaku karena aku tidak pernah menggunakan akun yang telah dibuatkannya untukku. Sampai akhirnya, kita memutuskan untuk berteman saja dan tidak lagi menjalin hubungan spesial seperti yang telah kita jalani selama ini.
Keputusan yang baik menurutku. Daripada aku harus mengimbanginya yang telah mengetahui banyak hal dibandingkan aku yang hanya berkutat dengan sekolah, teman, dan keluargaku saja. Bukan masalah jarak, bukan masalah cinta, dan bukan masalah perselingkuhan. Masalahnya hanya perkembangan teknologi dua negara yang berbeda jauh dan menghambat untuk berkomunikasi. Itu saja.
Hubungan yang sudah kita jalin selama ini hanya terhenti karena masalah sepele seperti itu. Haaah,, betapa gapteknya Indonesiaku.
Sekarang aku sudah menjadi seorang mahasiswi fakultas Hukum di salah satu perguruan tinggi negeri di kota kecilku Purwokerto. Menjadi seorang mahasiswi ekstensi dan sekaligus menjadi seorang pekerja kantoran memang sedikit menyusahkan, hehehe. Tapi tak apa, aku sangat menikmati hidupku yang sekarang ini.
Sekarang aku memiliki kehidupan yang baru. Kehidupanku yang sekarang lebih tertata dengan rapi. Aku menjadi seorang pekerja kantoran, seorang mahasiswi, dan menjadi seorang calon istri. Iya, calon istri. Aku sudah memiliki seorang tunangan. Dia orang yang baik, bertanggungjawab, dan tidak sulit untuk kita bertemu. Tidak memerlukan waktu yang lama seperti saat dulu aku bersama dengannya yang telah kuceritakan pada kalian.
Tapi, tidak jarang aku menyesal. Iya menyesal. Sekarang aku sudah memiliki handphone yang dengan mudah bisa aku gunakan untuk menelfon dan mengirim pesan. Aku juga punya akun-akun seperti friendster, facebook, dan lain-lain. Sekarang begitu murahnya aku bisa menggunakan warnet, hanya dengan Rp 3000/jam saja aku sudah bisa menikmati banyak layanan internet yang aku inginkan.
Lalu apa yang membuatku menyesal?
Kenapa layanan seperti ini baru bisa aku nikmati sekarang? Kenapa tidak sejak dulu?. Dulu saat aku masih bersama dengannya yang ternyata rela menjadi seorang servis komputer yang uangnya ia gunakan untuk ongkos tiap kali ingin bertemu denganku. Aku baru tau itu ketika aku tak sengaja membuka Blog miliknya dan membaca salah satu posting dimana dia menceritakan pahit manisnya saat menjalin hubungan jarak jauh denganku. Dia cerita banyak diposting itu. Dari mulai pertama kali dia naksir denganku ketika aku masih duduk dibangku SMP sampai saat kita memutuskan untuk berteman saja. Semua dia ceritakan disitu.
Antara sedih dan menyesal.
Aku sampai beberapa kali meneteskan airmata saat membaca postingnya itu. Yang ada diotakku hanya ada kata kenapa? Kenapa? Dan kenapa?.
Yaaah,, sekarang aku hanya bisa menyesal. Ternyata tak hanya selingkuh saja yang membuat orang putus di tengah jalan. Tapi, terlambatnya teknologi juga bisa membuat hubungan cinta seseorang putus ditengah jalan.